Essay: Pentingnya Memulai Pengenalan Bahasa Inggris Sedini Mungkin

Oleh : Marseli Puspawati, S.Pd.

Bahasa merupakan suatu alat komunikasi yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Selain untuk berkomunikasi, ada beberapa peran lain bahasa, yaitu sebagai alat untuk mengekspresikan diri dan sebagai salah satu unsur penting pembentukan suatu budaya. Sebagai salah satu warga negara Indonesia, tentunya bahasa yang menjadi alat untuk berinteraksi dalan kehidupan sehari-hari adalah bahasa Indonesia dan bahasa yang mewakili daerah tempat tinggalnya. Seiring dengan berkembangnya jaman, kini sering sekali kita jumpai bahasa dan istilah dari berbagai negara yang sudah tidak asing lagi digunakan tanpa kita sadari seperti bahasa Inggris. Bahasa Inggris merupakan bahasa yang telah ditetapkan oleh dunia sebagai bahasa Internasional, jadi tidak heran apabila sebagian besar warga Indonesia terutama mereka yang tinggal di kota besar, seperti Bandung, dapat menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Lantas, kapankan waktu terbaik untuk memulai pendidikan bahasa Inggris? Pastinya sering kali menjadi perdebetatan untuk para orangtua yang memiliki anak usia dini mengenai waktu yang tepat untuk mengenalkan bahasa asing selain bahasa Indonesia kepada buah hatinya.

Waktu yang tepat untuk mengenalkan bahasa asing adalah sedini mungkin. Hal itu dikarenakan anak telah memiliki LDA (Language Acquisition Device) atau yang dikenal dengan piranti pemerolehan bahasa di dalam otaknya sejak terlahir di dunia. Bahasa yang dipelajari oleh anak pada usia dini bukan melalui tahapan menghapal atau bahkan mempelajari pola kalimat, melainkan melalui pengulangan kata secara berkala atau kita kenal dengan istilah repetition. Tidak ada hubungannya antara motivasi dan kecerdasan anak dalam menguasai suatu bahasa pada usia dini. Membiasakan anak berinteraksi langsung dengan bahasa tersebutlah yang membuat anak dapat menguasai suatu bahasa, baik itu bahasa ibu mapun bahasa asing. Usia terbaik untuk mulai mempelajari bahasa adalah usia 3 – 6 tahun. Pada usia tersebut anak sudah mulai memakai bahasa asing meski berupa kata-kata patah dengan cara meniru orang dewasa disekitarnya.

Seperti yang telah dijabarkan pada paragraph sebelumnya bahwa mengenalkan bahasa asing akan lebih baik dimulai sejak usia dini. Hal itu akan sangat berdampak positif terhadap pendidikan anak pada saat mulai memasuki jenjang pendidikan formal, baik itu TK, SD, SMP, SMA maupun SMK. Apabila anak telah memiliki dasar dan telah terbiasa, maka melalui pendidikan formal tata bahasanya dapat lebih diperkuat dan diperlancar. Sayangnya seperti yang telah kita ketahui, mata pelajaran bahasa Inggris di Indonesia baru diajarkan pada jenjang SMP untuk kurikulum 2013. Meskipun kini telah ada revisi kurikulum terbaru, yaitu kurikulum merdeka yang memberikan kebebasan kepada satuan pendidikan sekolah dasar (SD) untuk dapat menyertakan mata pelajaran bahasa Inggris kedalam mata pelajaran pilihannya, sayangnya hal ini baru dijalankan pada tahun 2022 dan hanya untuk kelas 1 dan 4. Sedangnkan masa-masa emas untuk mengasah penguasaan bahasa asing kepada anak akan lebih baik apabila dimulai dari SD, sehingga baik di lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah, anak baik disadari atau tidak akan terus terasah kemampuan berbahasanya.

Mungkin beberapa dari kalangan masyarakat masih merasa bahwa penguasaan bahasa ibu dan daerah perlu diutamakan sehingga mengesampingkan pengenalan bahasa Inggris kepada putra putrinya. Itulah alas an terbesar mengapa bahasa Inggris ditiadakan pada era kurikulum 2013. Padahal, di jaman era digital saat ini, dimana hampir seluruh sistem, tulisan, bahkan tontonan anak-anak sudah menggunakan bahasa Inggris. Akibatnya, sering dijumpai kasus dimana anak hanya ingat suatu kata asing tanpa tahu makna dan fungsi sebenarnya dari kata-kata tersebut dan mungkin hanya mereka ucapkan agar terlihat keren. Padahal menurut Aedi, N & Amaliyah, N (2016:195) mengatakan bahwa “Di era globalisasi dan instant sekarang ini, anak didik mulai dari usia SD bahkan TK sudah dituntut bersaing dalam mata pelajaran bahasa Inggris.” AApabila anak di usia SD sudah tertinggal kemampuan bahasa Inggrisnya, maka akan sulit untuk mengejar kemampuan berbahsanya di jenjang yang lebih tinggi. Menurut Lenneberg (2004), akan sangat sulit untuk seseorang mempelajari bahasa apabila masa kritisnya telah terlewati. Menurut beliau, masa kritis seorang anak dalam mempelajari bahasa adalah pada usia 3 – 12 tahun. Di Indonesia, setengah dari masa kritis tersebut dilalui anak pada jenjang sekolah dasar (SD). Berdasarkan hal tersebut, pentingnya pembelajaran bahasa Inggris perlu dimulai dari jenjang TK dan SD, dan hal tersebut telah dilaksanakan oleh yayasa BPI sedari dulu.

Yayasan BPI dalam rangka mewujudkan visinya untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas memutuskan untuk menjadikan mata pelajaaran bahasa Inggris sebagai bagian dari Prodi Khusus (PRODIKSUS) sebagai jawaban atas kebutuhan siswa dan orang tua siswa yang memiliki harapan tinggi agar putra putri mereka dapat menguasai bahasa Inggris dengan baik dengan menyekolahkan anaknya di lingkungan yayasan BPI. Yayasa BPI sangat menyadari bahwa untuk terus maju dan berkembang mengikuti era digitalisasi saat ini, penguasaan bahasa Inggris menjadi salah satu kunci utama agar siswa siswi yang diajar menjadi lulusan terbaik yang dapat mengharumkan nama bangsa.

Pembelajaran bahasa Inggris yang menjadi bagian dari PRODIKSUS tersebut dilaksanakan mulai dari jenjang TK, SD, SMP, SMK dan SMA. Tujuan utama dari PRODIKSUS ini adalah untuk memberikan pelayanan yang lebih diluar kurikulum yang telah ditentukan oleh pemeritntah dan menjadikan yayasan BPI berbeda dengan sekolah lainnya. Setiap unit memiliki rancangan PRODIKSUS yang berbeda yang disesuaikan dengan kebutuhan dan karakter siswa, baik itu dalam bentuk intrakulikuler ataupun ekstrakulikuler. Meskipun demikian, tujuan dari pembelajaran itu tetaplah sama. Dengan mengikuti pendidikan di yayasan BPI dimulai dari TK, SD, kemudian diteruskan ke jenjang SMP dan SMA ataupun SMK, siswa tidak perlu khawatir tertinggal atau tidak dapat mengikuti, dikarenakan kurikulum bahasa Inggris setiap unitnya telah dimodifikasi agar terasa mengalir seperti sungai. Sehingga tanpa disadari siswa telah meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya perlahan tapi pasti melalui kesehariannya di lingkungan yayasan BPI.

Pembelajaran bahasa Inggris pada tahap SD lebih berfokus kepada penguasaan pembendaharaan kata, terutama terkait kata kerja, kata benda, dan kata sifat yang sering dijumpai oleh siswa siswi di kehidupan mereka sehari-hari. Pada jenjang ini, penguasaan struktur atau pola bahasa tidak diutamakan, tetapi mulai dibiasakan melalui kegiatan bercakap-cakap (Conversation). Hal ini bertujuan agar saat peserta didik memasuki jenjang pendidikan mengengah pertama (SMP), mereka telah memiliki pembendaharaan kata yang kuat, sehingga pada saat mempelajari struktur kalimat tidak mengalami kendala dalam pemilihan kata. Berbeda dengan jenjang SMA ataupun SMK yang tentunya kemampuan berbahasa sudah lebih tinggi dibanding jenjang sebelumnya. Pada jenjang menegah atas ini, peserta didik sudah mulai dipersiapkan untuk menghadapi dunia global. Dimulai dari penguasaan TOEFL, TOEIC, ataupun IELTS sesuai dengan kebutuhan peserta didik itu sendiri. Memberikan persiapan yang matang untuk peserta didik agar dapat mencapai keberhasilan itulah salah satu tujuan utama adanya PRODIKSUS bahasa Inggris di lingkungan yayasan BPI. Tentunya hal itu hanya dapat dirasakan dan dinikmati oleh mereka yang telah mempercayakan putra putrinya untuk bersekolah di yayasa BPI.

Daftar Pustaka:

Aedi, N & Amaliyah, N. (2017). Manajemen Kurikulum Sekolah. Gosyen Publishing. Yogyakarta

Holiday Lado, V. (2021). Pengertian Bahasa, Peran & Fungsi Bahasa secara Umum di Masyarakat. https://tirto.id/pengertian-bahasa-peran-fungsi-bahasa-secara-umum-di-masyarakat-gdhW.

Lenneberg E. H. (Ed.). 2006. New Direction The Study Of Language. http://www.ualberta.ca/~gemian/ejournal/libben2.htm.

Nursiti M, S. (2018). Bahasa Inggris Pada Sekolah Dasar: Mengapa Perlu Dan Mengapa Dipersoalkan. JUDIKA, Kerawang.

Sahril. (2014). Pemerolehan Bahasa Anak (Studi Kasus Terhadap Pemerolehan Bahasa Anak Usia Dini). Medan makna Vol 12, 187 – 195, Medan.